Satgas Keamanan Desa Terbentuk, Persempit Ruang Pelaku Kejahatan

Foto bersama (pemdes, Polri, TNI dan warga tergabung dalam Satgas)

Lumajang (suarasatunews.com)
  Polres Lumajang. Kapolres Lumajang terus menunjukkan ketajaman Insting Kepolisiannya dalam menangani kasus begal dan pencurian sapi.

  Seperti yang diberitakan sebelumnya, Polres Lumajang mendapat laporan warga yang kehilangan sapi dan kini sapi yang hilang tersebut telah berhasil ditemukan.

  Namun keberhasilan itu tidak serta merta membuat Kapolres Lumajang AKBP DR Muhammad Arsal Sahban SH SIK MH MM puas begitu saja. Orang nomor satu di jajaran Polres Lumajang itu meninjau langsung TKP awal mula kejadian pencurian tersebut untuk memberi contoh kepada Kapolsek jajarannnya.

  “Saya instruksikan agar Kapolsek hadir langsung setiap ada kejadian begal maupun pencurian sapi, dan tidak boleh diwakilkan,” ujar Kapolres Lumajang melalui pesan singkat aplikasi Whatsappnya, Jum’at 4 Januari 2018.

  Kapolres berharap, dengan kehadiran Kapolsek di lokasi TKP, supaya dapat memetakan bagaimana kejadian tersebut bisa terjadi dan mengetahui akar permasalahan sehingga dapat membuat solusi terbaik agar kejadian tersebut tidak terulang lagi.

  Kapolres juga telah menginstruksikan kepada para Kapolsek untuk membentuk satgas keamanan desa, agar meniru satgas yang telah terbentuk di salah satu Desa di Jatiroto yaitu Desa Sukosari.

  Dalam satgas ini sendiri terdiri dari 50 orang. Setiap anggota satgas memegang HT, dimana HT tersebut sudah didukung dengan Repiter Pancar Ulang sehingga HT bias terkoneksi satu dengan yang lainya di seluruh wilayah desa Sukosari

  Tugas Satgas ini berpatroli dari pos kamling satu ke pos kamling lainnya. Selain itu juga bertugas mengecek dan mengarahkan petugas pos kamling agar bertanggungjawab saat bertugas. 

  Perbedaan tugas satgas keamanan desa dan siskamling sendiri adalah dimana satgas bersifat mobile bergerak antar RW dalam satu desa sedangkan petugas siskaling bersifat stasioner dan bergerak hanya dibatas RW nya saja.

  “Beberapa polsek wilayah utara yaitu Polsek Randuagung, Kedungjajang, Klakah dan Jatiroto telah melakukan studi banding ke Desa Sukosari untuk mengadopsi sistem pengamanan desa yang sudah diterapkan di Desa Sukosari,” sebutnya.

  Perlu diketahui sebelum adanya satgas dibentuk, di wilayah Desa Jatiroto tepatnya sepanjang jalan Raya Sukosari adalah zona merah akan tindak kejahatan begal. Hampir tiga sampai empat kali kejadian perampasan kendaraan roda dua terjadi. Namun berkat adanya satgas tersebut, kini wilayah tersebut hampir dikatakan tidak ada lagi kriminaltias yg menghantui para pengguna jalan tersebut.

  “Hal ini dapat menjadi langkah pertama dalam menghadapi permasalahan kriminalitas, dimana masyarakat ikut berperan serta atas keamanan di wilayah mereka dan juga satgas keamanan desa ini menjadi bentuk implementasi sinergisitas antara masyarakat dengan Kepolisian,” tutup Arsal. (TIM

Tidak ada komentar:

Berkomentarlah sesuai tema tulisan dengan tetap beretika dan satun. Jika komentar anda melanggar UU ITE, adalah diluar tanggung jawab kami.

Diberdayakan oleh Blogger.