Belajar Dari Serat Leluhur

Foto : Ikbal Zamzami



~Serat Kalatidha~
R. Ng. Ranggawarsita

“Mundhak apa aneng ngayun, Amdhedher kaluputan, siniran ing banyu lali, lamun tuwuh dadi kekembangan beka.”

(Apa guna menjadi pembesar, jika hanya menanam benih kesalahan yang disiram air kealpaan (lupa). Akhirnya tumbuh pohon bencana).

Dari serat ini kita harus banyak belajar. Kenapa?.. Memahami tentang suatu kehidupan ini senyatanya pelik. Ada garis batas yang harus dilakukan dan untuk tidak dilanggar. Manusia hanya melanjutkan apa yang harus diperbuat oleh yang sebelumnya. Karena manusia merupakan bagian dari ekosistem kehidupan ini. Tidak hanya alam, lingkungan terluar dari kehidupan,  semuanya menjadi penyeimbang dalam proses kehidupan jagat (kosmos) ini.

Namun yang menjadi catatan besar dalam pesan petuah ini adalah petunjuk bagi pembesar. Saya mengandaikan pembesar disini adalah "penguasa". Kenapa penguasa??.. Dan kenapa tidak pada manusia sekarat/masyarakat jelatah??? Yang hari ini kehidupannya hanya menunggu pemberian sesigar roti (harapan) dari penguasa/pembesar.

Ternyata kita bisa menyimpulkan bahwa peguasa itu berkewajiban melindungi yang lemah, menyejahterakan, bahkan memikulnya dikala yang lemah dalam keadaan terpapah. Tak ada lagi selain tugas dan fungsinya adalah membahagiakan kaum atau rakyatnya. Dan jika itu tidak dilakukan, sejatinya peranan kuasa akan menghilang dimurka zaman. 

Sebenarnya narasi akan bakti kekuasaan sudah menjadi signal pesanan sedari dulu, agar manusia (penguasa) lebih berhati-hati untuk bersikap lebih arif bijaksana. Dan jika penguasa lalai, bahkan telah berbuat kedzoliman. 

Maka, yang terjadi adalah justeru yang dihadirkan bukan suatu kebaikan, melainkan malapetaka dan menjadi sumber kerusakan di muka bumi ini. 

Memasuki era milenial ini, kita dituntut harus lebih pandai memanfaatkan dan juga mampu memfilter supaya tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip norma kehidupan. Dalam konteks inilah peran penguasa/ pembesar sangat dibutuhkan. 

Apalagi keadaan kehidupan saat ini sudah berwatak digital dan bersifat instan. Bahkan nilai kebaikan menjadi "angka-angka"  yang selalu terpampang pada  layar gadget dan mesin. Tapi itu tak salah. Karena alam yang menuntut membangun kehidupan lebih berkualitas, dinamis dan harmonis.

Kita tahu, kebudayaan macam konvensional sudah ditinggal. Tak ada lagi primitif dalam kehidupan berserikat. Dan saya kira, yang masih bertahan hanya bertujuan menjaga elektabilitas konsistensi dalam kehidupannya (Baca budaya lokal). Lagi-lagi itu adalah piliihan dan tak layak digugat.

Dari uraian ini, betapa penguasa harus menjaga, bertanggungjawab dan harus menjadi central pengetahuan serta moralitas bagi rakyatnya. Bukan sebaliknya, menjadi embrio kedangkalan dalam menata kelola kehidupan yang tak berpijak pada kebenaran dan keadilan. 

Sebagai pemuda dan sekaligus sebagai generasi bangsa. Kita harus selalu bisa menatap masa depan dengan penuh kegagahan dan ketangguhan. Gagah artinya membusungkan dada demi suatu  perjuangan mencapai perubahan. Tangguh tak kenal lelah dalam memperjuangkan kehidupan yang lebih bermakna. 
Dan tentu harus didasari dengan "etika" supaya tak terlena dan larut pada egoisitas materialistik.

Dari serat atau petuah leluhur, adakalanya menjadi penting sebagai cerminan bagi pembesar dan kelompok muda saat ini sebagai pemikul garis sosial. Terutama bisa dijadikan tambahan pelengkap pengetahuan. Meskipun ungkapan (Damardjati Supadjar 1993)  "Pemuda janganlah terbelenggu oleh sejarah masa lampau". Artinya ada tugas dan tuntutan kita sebagai generasi bangsa untuk tampil korektif, dalam menyikapi berbagai peristiwa kehidupan. 

Sebagaimana telah dikemukan di atas. Ukuran standar polarisasi kekuasaan dalam konteks sosial kultural yaitu menjaga "keseimbangan" dan keluhuran dalam mengemban tradisi kehidupan yang bermartabat.

Dan selayaknya hidup akan lebih bermakna jika kita selalu berbuat untuk kebaikan bersama. Untuk itu harapan besarnya adalah : sebagai penguasa harus tetap terus berpacu menjalani rutinitas kehidupan ini. Dan terus memompa adrenalin tegak lurus kedepannya. Karena, kita juga tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya di esok hari. Tetapi yang perlu diingat, kita juga tak boleh menghilangkan tradisi yang lama. Selama itu masih layak untuk dipergunakan dan bermanfaat untuk kelangsungan hidup saat ini.

Penulis : Ikbal Zamzami

Tidak ada komentar:

Berkomentarlah sesuai tema tulisan dengan tetap beretika dan satun. Jika komentar anda melanggar UU ITE, adalah diluar tanggung jawab kami.

Diberdayakan oleh Blogger.